BUDI DAYA KEPITING
I.
JENIS-JENIS KEPITING
A.
Pendahuluan
Kepiting yaitu
ketam yang hidup di pantai, berkaki sepuluh, dua di antaranya merupakan sepit
yang tajam dengan punggung yang keras berwarna hijau kehitaman selebar telapak tangan, dan dapat dimakan. Kepiting
mempunyai cangkang dan bagian punggungnya sangat keras. Walaupun begitu, bagian
dari tubuh kepiting yang bisa dimakan masih ukup besar, yaitu sekitar 45%.
Bagian yang dapat dimakan tersebut mengandung zat gizi lebih tinggi lagi
seperti 65,7%, lemak segitar 0,88%, dan mineral sekitar 7,5%. Telurnya
mengandung zat gizi lebih tinggi lagi seperti proteinnya sekitar 88,55%, lemk
sekitar 8,16%, dan minelar sekitar 3,2%.
Oleh karena itu, kepiting bitina yang sedang bertelur menjadi incaran bagi
konsumen sehingga tidak heran jika harganya lebih mahal 3-4 kali lipat
dibandingkan dengan harga kepiting jantan dan betina yang tidakbertelur dengan
ukuran yang sama.
Di Indonesia,
kepiting lebih banyak ditemukan di daerah hutan bakau sehingga biasanya dikenal
juga dengan nama kepiting bakau (Scylla serrata) atau magrove crab. Kepiting bakau ini termasuk salah satu komoditas
perikanan pantai yang sangat baik untuk dikembangbiakkan kerenabanyak disenangi
oleh masyarakat. Hal ini disebabkan terutama karena kepiting mempunyai
kandungan protein yang cukup tinggi, mempunyai daging yang rasanya enak, lebih
segar, dan sangat gurih dibandingkan dangan daging udang windu. Selain itu,
kepiting juga merupakan pilihan konsumen untuk menjaga kesehatan dengan
mengonsumsi makanan bergizi, tetapi mempunyai kalori yang rendah. Oleh karena itu, keping selain
disenangi oleh konsumen juga dapat memberikan keuntungan bagi petani. Banyak
permintaan kepiting walaupun harganya cukup tinggi.
Di negara lain
seperti di India, Filipina, Singapura,
Taiwan, dan Thailand budi daya kepitingnya sudah maju sehingga kepiting menjadi
sumber pendapatan bagi negara mereka. Di Indonesia , kepiting belum begitu
mendapat perhatian sebagai salah satu sumber pendapatan nelayan dan sumber
devisa negara. Kepiting yang diperoleh di pasaran pada umumnya merupakan
kepiting hasil tangkapan. Padahal, kepiting dapat dijadikan sebagai salah satu
sumber pendapatan negara kerena banyak negara yang mngimpor kepiting dan
permintaan impor tersebut cenderung meningkat setiap tahunnya. Negara-negara
yang banyak mengimpor kepiting di antaranya yaitu Amerika Serikat, Jepang, Australia, Hongkong, Benelux,
Korea Utara, Korea Selatan, dan Taiwan.
Daerah sebaran
kepiting sangat luas yaitu disekitar wilayah Indo-Pasifik seperti Jepang,
Taiwan negara-negara ASEAN, Mozambik, India, Iran, pantai selatan dan timur
Afrika Selatan, Bangladesh, Srilangka, Vietnam, serta pulau-pulau dilautan
Hindia. Selai itu, kepiting juaga tersebar di selatan, di kepulauan Hawaii di
utara, serta di Selandia Baru.
Pada awalnya,
kepiting ditangkap oleh petani tambak karena dianggap sebagai penghuni liar
yang suka membuat kerusakan atau membuat lubang di tambak seperti menggali
dasar tambak, membocorkan pematang, dan merusa bangunan kayu atau bambu di
tambak. Selain itu, kepiting juga dapat merupakan hama ikan dan udang. Oleh
karena itu, tidak heran jika petani sagat membenci kepiting karena tingkah
lakunya yang dpat menyebabkan kerusakan. Akan tetapi, pendapat tersebut
perlahan-lahan mulai berubah karena penggemar kepiting sudah muali banyak dan
banyak dicari oleh konsumen di rumah-rumah makan biasa hingga di restoran-
restoran terkenal.
Kepiting dapat
dinikmati dalam bentuk hanya sebagai rebusan atau dalam bentuk olahan di warung
tenda waktu malam di pinggiran jalan atau bahkan di restoran “sea food”
terkenal. Di berbagai daerah kepiting dapat dinikmati dalam bentuk masakan dan
pelayanan yang berbeda diberbagai daerah di Indonesia seperti di Sulawesi
Selatan, Jawa, Kalimantan, Sumatra, Maluku, dan Irian Jaya. Sedangkan diluar
negeri, masakan kepiting dapat ditemuai dan dinikmati di Malaysia, India,
Amerika Serikat, Jepang, Hongkong, Singapura, Thailand, serta di sepanjang
Pantai Timur Afrika dan pulau-pulau di
Wilayah Pasifik. Di negara Amerika
Serikat, kepiting termasuk makanan yang eksklusif dan banyak dikonsumsi di
rumah makan serta acara khusus keluarga, sedangkan di Belgia dan Luxemberg haga
kepiting cukup tinggi, walapun begitu daya beli masyarakatnya tetap tinggi.
Indonesia
sebenarnya dapat menjadi tempat yang baik untuk budi daya kepiting kerena
Indonesia termasuk salah satu negar yag memiliki garis pantai terpanjang di
dunia, yaitu sekitar 80.000 km lebih.selain itu, budi daya kepiting mempunyai
beberapa keuntungan yaitu (1) ketersediaan benih di alam cukup banyak; (2)
pemeliharaannya dapat dilakukan secara terus menerus sepanjang tahun; (3)
pembudidayaannya lebih mudah dan memerlukan biaya yang lebih sedikit
dibandingkan dangan pembudidyaan uadang; (4) kepiting dapat diangkut atau
dibawa dalam keadaan hidup; (5) mudah dalam hal penjualan karena dagingnya agak
manis dan sangat gurih.
Akan tetapi,
petani masih banyak yang belum berminat untuk membudidayakan kepiting karena
beberapa alasan di antaranya yaitu (1) kepiting yng hidup di perairan Indonesia
masih mempunyai sifat yang buas; (2) pengetahuan mengenai kepiting masih
terbatas; (3) beberapa jenis kepiting rasanya kurang enak atau bahkan ada yang
mengandung racun; (4) memerlukn waktu pemeliharaan yang lebih lama dibandingkan
waktu pemeliharaan udang; (5) pengetahuan petani yang masih redah megenai cara
pemelaiharaan kepiting yang modern. Jadi, kepiting yng diperoleh di pasaran
pada umumnya merupakan hasil tangkapan dan sebagian petani sudah ada yang
membudidayakan kepiting, tetapi dengan teknologi yang sederhana. Jika hanya
mengandalkan kepiting dari hasil penangkapan dan teknologi yang sederhana, maka
dikhatirkan produksinya akan enurun, tidak stabil, dan terutama sangt
tergantung pada alam.
Untuk
mengatasi hal tersebut, dilakukan berbagai usaha seperti penyebaran informasi
mengenai manfaat kepiting dan potensinya yang dapat digunakan sebagai sumber
pendapatan petani. Selain itu, hal yang sangat penting dilakukan yaitu usaha
membudidayakan kepiting jenis tertentu secara komersial dan intensif agar dapat
dipeoleh hasil secara terus-menerus. Hal ini dilakukan erena kepiting dapat
menjadi salah satu komoditas untuk diekspor seperti halnya dengan udang windu
karena permintaan di pasaran terus meningkat, baik di dalam maupun di luar
negeri.
B.
Berbagai Jenis Kepitinng
1.
Klasifikasi kepiting
Klasifikasi
kepiting secara lengkap yaitu kepiting masuk dalam Filum: Arthopoda; Klas:
Crustacea; Subklas: Malacostraca; Ordo: Decapoda; Famili: Portunidae (kepiting
perenang), Cancridae (kepiting cencer), Potamonidae (kepiting air tawar), dan
Xanthidae (kepiting lumpur); Genus: Scylla; Spesies: Scylla serrata.
Keempat famili
kepiting tersebut, hanya tiga famili yang disenangi oleh onsumen yaitu
Portunidae (kepiting perenang), Cancridae (kepiting cancer), Xanthidae
(kepiting lumpur) sehingga ketiga kepiting tersebut banyak diperdagangkan,
sedangkan satu famili Potamonidae (kepiting air tawar).
2. Ciri-ciri
kepiting
Ciri-ciri kepiting,
terutamakepiting bakau yaitu sebagai berikut.
(1) Karapasnya
berbentuk pipih,agak cembung, dan hanya di beberapa bagian saja yang berbintik
kasar. Panjangnya sekitar dua per tiga dari lebarnya. Warnanya seperti lumpur
atau sedikit kehijauan sehingga biasa juga disebut kepiting hijau.
(2) Mempunyai
dua mata yang menempel di tepi bagian depan (“anterior”) karapas dan dilengkapi
dengan tangkai sehingga matanya dapatdigerakkan secara leluasa. Selai itu, jika
ada ancaman dari luar, maka untuk melindungi matanya, keduamatanya tersebut
akan ditempelkan rapat-rapat ke kelopaknya.
(3) Dahinya
juga dapat di antara kedua matanya yang mempunyai emat buah gigi tumpul, tetapi
tidak termasuk duri ruang matanya yang sebelah dalam.
(4) Mulutnya
terapat di antara kedua matanya.
(5) Mempunyai
tiga pasang kaki pejalan dan satu pasang kaki perenang. Kaki pejalan berfungsi
untuk berjalan, sedangkan kaki perenang digunakan untuk berenang. Letak kaki
perenang yaitu di ujung perut dengan bentuk yang lebar dan pipih menyerupai
dayung sehingga digunakan sebagai pendayung pada waktu berenang . hal inilah
yang membuat kepiting dapat berenang dengan ceat sehingga biasa juga disebut
kepiting perenang atau “swimming crabs”. Kaki dayung inilah yang mencirikan
kalau kepiting tersebut hidup di perairan, bukan di daratan.
(6) Mempunyai
sepit (bagian tubuh kepiting yang berstruktur catut) yang ukurannya berbeda
antara sapit kepiting jantan dan sapit kepiting betina. Sapit kepiting jantan
panjangnya dapt mencapai dua kali lipat dari panjang karapas, sedangkan sapit
kepiting beina dan kepiting jantan muda ukurannya lebih pendek. Dalam keadaan
normol, ukuran sapit kanan lebih besar dari pada sapit kiri. Ruas sapit yang
letaknya paling dekat dengan perut mempunyai tiga buah duri yang kuat, di sudut
sebelah dalam, dan ruas terakhir (sapit bagian luar) bentuknya bulat dan
terkadang mempunyai sat atau dua buah duri kecil. Ujung sapit warnanya
kemerahan-merahan.
Kepiting
mempunyai beberapa sifat atau cir khas yaitu sebagai berikut
(1) Kepiting
yang hidup di perairan laut dapat juga bertahan idup beberapa hari di daratan
yang mempunyai udara lembap. Sifat ini disebut sifat akuatik.
(2) Kepiting
bersifat kanibalisme, baik kepiting keil maupun kepiting dewasa karena dapat
menyerang sesamanya, terutama kepiting yang sedang ganti kulit atau makhuk lain
yang ada di sekitarnya.
(3) Kepiting
pada umumnya lebih menyukai makanan alami seperti alga, udang-udanagn, bahkan
bangkai hewan. Oleh karena itu, kepiting dewasa termasuk hewan pemakan segala
jenis makanan atau “scavanger”. Larva keping pada umumnya hanya memakan
plankton.
(4) Keiting
makana dengan menggunakan sapitnya yang besar. Sapit tersebut digunakan untuk
memasukkan makanan ke mulutnya. Untuk mempertahankan daerah kekuasaannya,
kepiting mempunyai sifat unik yaitu kepiting akan menyerang dengan ganas
musuhnya dengan cara mencabik-cabiknya menggunakan sapit jika daerah
kekuasaannya diganggu.
(5) Kepiting
pada siang hari akan bersembunyi atau membenamkan diri, nanti setelah matahari
terbenam beberapa saat, barulah kepiting tersebut keluar dari tempat
persembunyiannya. Akan tetapi, akan bersembunyi lagi jika matahari akan terbit.
Pada waktu malam, kepiting bergerak trus, utamanya untuk mencari makan. Epitig
tersebut dapat mencapai jarak sekitar 219-910 meter dalam satu malam untuk
mencari makan.
3. Jenis
kelamin
Organ kelamin jantan
berbeda dengan jenis kelamin betina. Alat kelamn kepiting terdapat di bagian
perut atau dadanya.
Ciri-ciri jenis kelamin
betina yaitu sebagai berikut.
(1) Bentuk
organ kelaminnya segitiga yang lebar dan di bagian depannya agak lonjong atau
tumpul.
(2) Alat
kelaminnya berupa ovarium (indung telur atau alat kelamin dalam betina yang
membentuk sel telur) yang tempat dan bentuknya seperti testis. Di bgian tengah
ovarium akan keluar oviduk atau saluran telur yang pendek.
Ciri-ciri
jenis kelamin jantan yaitu sebagai berikut.
(1) Bentuk
organ kelaminnya segitiga yang sempit dan di bagian depannya agak meruncing.
(2) Alat
kelaminnya terdiri atas sebuah testis yang berwarna putih. Yang dimaksud dengan
testis yaitu buah zakar atau alat kelamin jantan yang menghasilkan mani.
Jenis
kelamin kepiting selain dapat diketahui dari ciri-cirinya, juga dapat dibedakan
melalui tiga cara yaitu sebagai berikut.
(1) Berdasarkan
ruas abdomennya, kepiting betina mempunyai ruas abdomen yang lebar, sedangkan
kepiting jantan ruas abdomennya lebih sempit.
(2) Berdasarkan
bentuk eksternalnya, bentuk kelamin betina lebih lebar daripada bentuk organ kelamin jantan, seperti telah
diterangkan sebelumnya.
Jenis-jenis kepiting yang bayak tersebar
di Indonesi, baik yang hidup di air tawar, air laut, maupun yang hidup di
daratan.
1. Kepiting
rawa
Kepiting rawa atau
kepiting bakau atau kepiting lawo banyak ditemui di tepi pantai dengan tanah
yang agak berlumpur atau sawah pasang surut atau di sawah yang dekat dengan
dengan hutan bakau (hutan mangrove). Tempat hidup yang sangat disenangi oleh
kepiting rawa ini yaitu daerah tepi pantai yang mempunyai hutan bakau atau
tumbuh-tumbuhan rawa lainnya. Kepiting rawa yang di sawa biasanya hidup
sela-sela tanaman padi sehingga sulit ditangkap kerena suka bersembunyi di
dalam tanah atau di celah tanaman bakau. Jenis kepiting bakau atau kepiting rawa
sangat terkenal dan banyak diperdagangkan yaitu Scylla serrata.
Ciri-ciri kepiting bakau
yaitu sebagai berikut.
(1)
Badannya bundar, agak besar, dan tebal.
(2)
Kepiting betina mempunyai telur yang bentuknya
seperti gumpalan yang bundar pipih dengan diameter sekitar 2-3 cm. Gumpalan
telur tersebut terdapat di bagian dadanya da selalu dibawa kemana-mana. Jika
diperhatikandengan baik, maka telur tersebut terdiri atas sejumlah telur yang
kecil-keilseperti pasir dangan warna kuning susu. Tekur keci-kecil tersebut
menggumpal dan tidak terpisah-pisah karena dilapisi oleh kulit tipis.
(3)
Kerapasny atau perisai tubuhnya tebal denga
warna yang hijau tua kemerah-merahan atau kecokelat-cokelatan. Kerapas
berfungsi melidungi bagian dalam tubuh kepiting yang kandungnnya terdiri dari
zat kapur yang agak tebal.
(4)
Sapitny agak besar. Sapit ini digunakan sebagai
senjata yang menakutkan bagi lawannya.
2. Kepiting
laut
Kepiting laut atau biasa
juga disebut kepiting suji berbeda dengan kepiting rawa. Kepitin ini lebih
senang hidup di tempatyangtidak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan, di alutan lepas,
atau di pinggir laut yang landai.
Secara ekonomis,
kepiting laut hampir sama dengan kepiting rawa yaitu termasuk kepiting yang
banyak diperdagangkan.
Ciri-ciri
kepiting laut yaitu sebagai berikut.
(1) Badannya
berbintik-bintik dan agak lonjong dengan bentuk tubuh yang kecil dan pipih
kerena pertumbuhan badannya lambat.
(2) Karapasnya
berukuran lebih tipis daripada karapas rawa.
(3) Kepiting
betina mempunyai telur yang bentuknya seperti gumpalan yang bundar pipih dengan
diameter sekitar 4-7 cm. Telur-telur tersebut sebenarnya, jika diperhatikan
dengan baik, terdiri atas sejumlah telur yang kecil-kecil seperti pasir dengan
warna merah jingga. Telur kecil-kecil tersebut menggumpal dan tidak
terpisah-pisah karena dilapisi oleh kulit yang tipis sperti halnya dengan telur
pada kepiting rawa.
(4) Barat
badan kepiting betina berbeda dengan berat badan kepiting jantan. Kepiting
betina beratnya sekitar 350gram/ekor, sedangkan kepiting jantan beratnya
sekitar 500 gram.
3. Kepiting
belengkakem
Kepiting belengkakem
banyak hidup di aerah yang ditumbuhi pohon, senang hidup di celah akartanaman
pantai, dan juga kadang-kadang membuat lubang di dalam tanah.
Kepiting belengkakem
dianjurkan untuk tidak dimakan kerena diduga mempunyai racun.
(1) Badanya
berukuran lebih kecil dibandingkan dengan kepiting rawa atau kepitinng laut.
(2) Gerakannya
lambat dan sangat santai sehingga bisa disebut kepiting malas. Akan tetapi,
jika mendapat gangguan maka gerakannya menjadi cepat.
(3) Warna
badannya agak cokelat tua dengan mata berwarna merah.
(4) Kulitnya
juga akan mengeluarkan cairan berwarna merah seperti darah.
(5) Mempunyai
sejumlah bulu menyerupai lumut di jari dan dadanya. Keberadaan bulu ini
merupakan ciri khas kepiting belengkakem.
4. Kepiting
garuntu
Kepiting
garuntu hidup di daerah yang banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan dan juga banyak
terdapat di dasar laut. Kepiting garuntu tidak begitu disenangi oleh konsumen
sehingga tidk diperdagangkan.
Ciri-ciri
kepiting garuntu yaitu sebagai berikut.
(1) Badannya
bulat kecil dengan berwarna kekuning-kuningan.
(2) Kerapasnya
tebal.
(3) Sapit
dan jari-jarinya agak pendek.
(4) Gampang
ditangkap karena mempunyai sifat yang sangat malas bergerak.
5. Kepiting
batu
Kepiting batu hidup di
celah-celah karang di tengah laut atau di celah batu di muara sungai.
Kepiting batu kurang
disenangi oleh konsumen kerena rasanya kurang enak dan dagingnya sangat
sedikit.
Ciri-ciri kepiting batu
yaitu sebagai berikut.
(1) Badannya
berukuran agak kecil.
(2) Kulitnya
berwarna kehijauan yang tampaknya sangat manarik dengan dada yang sebagian
putih warnanya.
(3) Karapasnya
agak tebal.
(4) Sapitnya
agak kecildibandingkan dengan ukuran badannya.
(5) Untuk
menangkap mangsa atau manghadapi musuhnya kepiting batu mempunyai gerigi yang
sangat tajam.
(6) Gerakannya
sangat lincah dan gesit bergerak di antara batu-batuan walau terkena hempasan
ombak kerena mempunyai kaki yang panjang.
6. Kepiting
kaefa
Kepiting kaefa hidup di
muara sungai atau di lautan dangan membuat lubang persembunyian di tebing
sungai atau hidup dengan berpegangan di kayu lapuk yang hanyut di laut atau di
muara sungai.
Ciri-ciri
kepiting kaefa yaitu sebagai berikut.
(1) Badannya
berukuran relatif kecil dibandingkan jenis kepiting lainnya.
(2) Warna
badannya biru kehitam-hitaman sehingga sulit dilihat dan ditangkap.
7. Kepiting
gelenteng
Kepiting gelenteng banyak
terdapat di Pulau Kalimantan. Kepiting gelenteng termasuk hewan yang buas
kerena biasa menyerang anak penyu yang baru menetas (tukik) yang berjalan ke
laut. Anak penyu tersebut akan diseret ke lubangnya, kemudian dicabik-cabik
dengan menggunakan sapitnya yang kuat. Selain di Pulai Kalimantan, kepiting
gelenteng juga hidup di Pulai Krakatau, jenis yang hidup di sana yaitu kibau.
Kepiting gelenteng tersebut dapat mencapai puncak krakatau,tetapi tetap akan ke
laut kerena telurnya masih ditetaskan di laut.
Ciri-ciri kepiting
gelenteng sebagai berikut.
(1) Badannya
berukuran sekitar 6 cm.
(2) Mempunyai
sepasang sapit yang kuat.
(3) Matanya
bertangkai panjang.
(4) Kakinya
panjang dan lancip menyebabkan kepiting gelenteng berjalan dengan cepat.
(5) Mempunyai
kebiasaan membuat lubang persembunyian di pasir yang cukup dalam yaitu sekitar
100 cm.
(6) Dapat
menyesuaikan diri dengan kehidupan darat.
(7) Mempunyai
kantung insang yang berisi air. Kantung insang tersebut juga telah jenuh, maka
air yang terdapat di dalamnya harus diganti dengan air yang baru dan segar.
8. Kepiting
binatu
Kepiting binatu dapat
beradaptasi dengan lingkungan darat yang kering, tetapi tetap masih belum dapat
meninggalkan kehidupan air sehingga masih biasa ditemukan di lumpur lunak di dasar
hutan bakau yang tidak begitu rimbun.
Ciri-ciri kepiting binatu
yaitu sebagai berikut.
(1) Badannya
berukuran agak keil.
(2) Warna
badannya merah, biru metalik, atau hijau sehingga mudah dilihat jika berada di
lumpur hutan bakau atau lingkungan yang berwarna hitam. Warna kepiting binatu
dipengaruhi oleh perubahan waktu seperti pada waktu malam warnanya putih
kekuning-kuningan, sedangkan pada waktu menjelang fajar warnanya menjadi
semakin tua.
(3) Kepiting
jantan mempunyai sepasang sapit yang ukurannya berbeda, yaitu sapit yang satu
ukurannya lebih besar dari sapit lainnya. Perbedaan ukuran sapit ini menjadi
ciri khas dari kepiting binatu. Sapit yang besar warnanya cerah dan suka
digoyang-goyang yang bertujuan untuk menarik perhatian betina atau untuk
menakut-nakuti kepiting jantan atau hewan lain yang mengganggunya. Sapit yang
kecil digunakan untuk makan. Sapit kepiting ini mempunyai sifat yang unik yaitu
jika sapit yang besar terpotong, maka sapit yang kecil akan tumbuh menjadi
besar, sedangkan tempat sapit besar yang sudah terpotong tersebut akan tumbuh
sapit kecil yang baru.
(4) Matanya
terdapat di ujung tangkai mata menyebabkan kepiting dapat melihat sekelilingnya
dengan mudah. Apabila ada bahaya yang dapat mengancam hidupnya, maka tangkai
matanya segera dimasukkan ke lekukan cangkang bagian depan, kemudian segera
berlari ke lubang persembunyiannya.
9. Kepiting
lambogo
Kepiting
lambogo atau kepiting bengkalang dapat hidup di dua alam. Kepiting lambogo
hidup di lubang-lubang di tepi pantai atau di pematang tambak atau sawah, maka
dapat membocorkan pematang tambak atau sawah
sehingga menjadi musuh petani.
Kepiting
lambogo dianjurkan untuk tidak dimakan karena merupakan jenis kepiting yang
mempunyai racun.
Ciri-ciri
kepiting lambogo yaitu sebagai berikut.
(1) Badannya
berukuran agak kecil dengan gerakan yang cepat sehingga sulit ditangkap.
(2) Dapat
mengubah warna badannya sesuai dengan keadaan lingkungan sekitar. Misalnya,
jika membuat lubang di pasir, sedangkan jika hidup di tanah yang hitam, maka
warna badannya segera berubah menjadi warna hitam.
II.
SYARAT HIDUP
Syarat hidup kepiting meliputi tempat hidup, siklus
hidup, makanan, serta salinitas dan suhu.
A. Tempat
Hidup
Tempat hidup kepiting
berbeda-beda menurut tingkat pertumbuhannya.
(1) Kepiting
yang siap untuk kawin biasanya akan masuk ke perairan tambak atau bakau.
(2) Kepiting
betina yang telah melakukan perkawinan, akan beruaya (pindah bersama) dari
perairan bakau menuju ke tengah laut untuk memijahkan (mengeluarkan) telurnya.
Kejadian tersebut terjadi pada bulan- bulan tertentu, terutama pada awal tahun.
Jarak yang ditempuh kepiting dalam beruaya untuk memijahkan telurnya tidak
lebih daripada satu kilometer menju arah Lut menjahui pantai. Kepiting betina
dalam sekali memijah dapat menghasilkan jutaan telur.
(3) Kepiting
betina biasanya yang sudah beruaya ke perairan laut biasanya akan mencari
daerah yang sesuai untuk memijah telurnya. Tempat yang dimaksud yaitu terutama
mempunyai salinitas dan suhu air laut.
(4) Telur
yang telah menetas berubah menjadi larva tingkat I atau Zoea I sampai larva
tingkat V atau Zoea V akan terbawa arus perairan panati. Setelah itu, Zoea V
akan berubah menjadi mengalopa yang mulai beruaya menuju ke dasar perairan
lumpur, kemudian menuju ke perairan
pantai.
(5) Berbeda
dengan kepiting betina yang telah melakukan perkawinan, kepiting jantan atau
kepiting yang telah dewasa biasanya tetap tinggal di perairan bakau atau
tambak, di sela-sela tanaman bakau, atau di sekitar pantai di bagian-bagian
yang berlumpur yang kandungan makanannya banyak.
B. Siklus
Hidup
Kepiting biasanya dapat
hidup sampai umur sekitar 3-4 tahun. Hal ini dapat terjadi didukung oleh
keadaan lingkungan yang sesuai. Kepiting sudah dianggap dewasa pada umur
sekitar 12-14 bulan sehingga sudah dapat dipijahkan. Yang dimaksud dengan
dipijahkan yaitu dilepaskan telur dan sperma untuk pembuahan. Dalam sekali
memijah, telur yang dapat dihasilkan jutaan jumlahnya.
Siklus hidup kepiting
dapat dibagi atas tiga tingkat perkembangan yaitu (1) fase telur atau embrionik, (2) fase larva, dan (3)
fase kepiting. Pada fase telur, perkembangan indung telur atau gonada mengacu
pada tingkat kematangan indung telur. Fase larva dikenal dengan Zoea (I-V) dan
mengalopa. Pada fase kepiting, dikenal kepiting muda dan kepiting dewasa. Untuk
lebih jelasnya, siklus hidup kepiting diterangkan sebagai berikut.
(1) Sebelum
matang, indung telur (organ hewan betina pembentuk sel-sel telur) masih
berukuran kecil dan pucat dan telurnya belum dapat dilihat dengan mata
telanjang. Bentuk seperti sepasang filamen seperti sari susu dengan warna yang
kuning-keputihan.
Jika sedang matang,
ukuran indung telur menjadi tambah besar dan mengisi hampir seluruh permukaan
ruangan bagian punggung di daerah dada. Telur-telur tersebut sudah dapat
dilihat dan dapat dibedakan kerena telah berkembang dengan baik. Telur-telur
tersebut berwarna merah atau kuning keemasan kerena sudah terdapat kuning telur
walaupun jumlahnya masih sedikit.
Jika telah matang
telur, maka indung telur berisi penuh telur yang sudah matang dengan warna
merah muda. Apabila karapasnya kepiting betina tersebut dibuka, maka akan
tampak seluruh ruangan dadanya berisi indung telur.
Telur yang telah
matang dan akan ditetaskan atau calon larva dinamakan pre-(proto) Zoea.
(2) Telur
kepiting yang telah dibuahi dan telah menetas disebut Zoea I atau larva tingkat
I yang secara terus menerus berganti kulit (moulting) hingga ke larva tingkat V
(Zoea V).pada tahap ini, Zoea biasanya berganti kulit sebanyak kurang lebih 20
kali dan proses ini berlangsung agak cepat yaitu sekitar 3-4 hari, tergantung
pada kemampun tumbuh dan ketersediaan makanan. Jika mkanan di lingkungan
tersedia dalam jumlah yang banyak, maka proses pergantian kulit akan
berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya yang kurang
makanan. Pergantian kulit sebenarnya karena tubuh kepiting tumbuh menjadi lebih
besar dan lebih berat, sedangkan kerangka luar yang keras yang membungkus
tubuhnya tidak dapat membesar. Oleh karena itu, perlu diganti dengan rangka
luar yang baru dan lebih besar.
(3) Setelah
larva tingkat V (Zoea V), maka akan berubah menjadi megalopa. Pada tingkat
mengalopa ini, proses pergantian kulit berlangsung lebih lama dibandingkan
dengan tingkat Zoea yaitu sekitar 15 hari. Pada tingkat magalopa, bentuk
tubuhnya sudah menyerupai kepiting dewasa hanya abdomen atau perut bagian
bawahnya masih mempunyai bentuk seperti ekor yang panjang.
(4) Megalopa
yang diganti kulit akan berubah menjadi kepiting muda. Pada tingkat kepiting
muda, abdomennya telah berubah menjadi seperti abdomen keping dewasa.
Abdomen kepiting
jantan dan betina berbeda bentuknya. Kepiting jantan mempunyai abdomen dengan
bentuk seperti tugu(runcing) sedangkan abdomen kepiting betina bentuknya
seperti lonceng atau stupa (tumpul).
Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan
digambarkan siklus hidup kepiting.
C. Kepiting
membutuhkan makanan dalam jumlah tertentu yang sesuai dengan kebutuhannya untuk
menunjang kegiatan pertumbuhannya. Jenis makanan yang dibutuhkan oleh kepiting
juga tergantung pada tingkat perkembangan kepiting tersebut.
(1)
Larva kepiting, terutama larva tingkat awal,
biasanya membutuhkan makanan yang berukuran kecil pula sesuai dengan ukuran
mulutnya yang kecil juga. Makanan yang dimaksud yaitu berbagai organisme
plaktonik (organisme laut, tembuhan dan hewan yang sangat halus dan melayang di
dalam air laut) seperti cacing, larva berbagai moluska (hewan berbadan lunak
yang sering bercangkang keras), rotifera (chlorella dan ragi roti), dan diatom
(ganggang yang selnya dikelilingi oleh suatu cangkang yang menyerupai kotak).
(2)
Pada tingkat megalopa, kepiting membutuhkan
makanan berupa organisme yang ukurannya lebih lebih besar dibandingkan dengan
yang dimakan oleh larva tingkat awal.
(3) Kepiting
dewasa dapat memakan segala makanan yang ada di sekitar seperti daging bahkan
bangkai sangat disenanginya, tumbuh-tumbuhan, atau bahkan bangunan tambak
seperti kayu dan bambunya. Cara kepiting makan yaitu sapitnya yang besar dapat
merobek-robek dan menghancurkan makanan yang telah ditangkapnya, kemudian
dimasukkan ke dalam mulutnya. Makanan yang telah masuk tersebut tidak tidak langsung masuk ke dalam perut, tetapi
terlebih dahulu disaring dan hanya bahan yang dapat dimakan oleh kepiting tersebut yang masuk ke dalam perutnya. Waktu
makan yang baik bagi kepiting adalah waktu tidak beraturan. Akan tetapi, pada
malam hari, kepiting-kepiting tersebut lebih aktif mencari makan.
D. Suhu
dan Salinitas
Selain makanan, salinitas dan suhu
turut menentukan kehidupan kepiting.
1. Suhu
Toleransi kepiting terhadap suhu
tergantung pada jenis kelamin, umur, dan siklus hidup kepiting. Penyesuaian
diri kepiting terhadap suhu yang ada dilingkungannya yaitu dapat dilakukan
dengan cara membenankan dirinya ke dalam lubang berlumpur atau dengan cara
pengubahan warna.
Suhu sangat berpengaruh terhadap
kecepatan metabolisme serta kegiatan serta kegiatan organisme lainnya. Pada perairan yang suhunya tinggi
dapat menyebabkan laju aktivitas dan metabolisme meningkat. Selain itu, suhu
juga dapat mempengaruhi berbagai fungsi organisme, misalnya laju pertumbuhan,
pergerakan, dan reproduksi.
2. Salinatas
Penyesuaian diri kepiting
terhadap perubahan salinitas yaitu kepiting akan mengubah konsentrasi cairan
tumbuhnya disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Perubahan salinitas dapat
mempengaruhi struktur organisme dan sifat fungsional. Perairan yang rendah
salinitasnya diperlukan sebab larva tingkat akhir harus dapat mencari perairan
muara sungai atau mempunyai hutan bakau biasanya mempunyai salinitas lebih rendah
yang digunakan untuk berlindung danmencari makan. Oleh kerena itu, larva
tingkat akhir biasanya lebih toleren terhadap perairan yang rendah salinitasnya
dibandingkan dengan larva tingkat awal.
Kisaran total salinitas
yang dapat ditoleransi oleh organisme lebih besar di perairan payau dan asin
daripada di perairan tawar.
III.
PEMILIHAN LOKASI BUDI DAYA KEPITING
Pemilihan
lokasi yang akan digunakan untuk usaha budi daya kepiting sangat penting
diperhatikan agar dapat diperoleh kepiting yang kualitas dan kuantitasnya dapat
memuaskan petani tambak. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi
untuk budi daya kepiting yaitu tanah, sumber air, kebutuhan pakan, tenaga
kerja, sarana dan prasarana.
A. Tanah
Pemilihan tanah yang baik
untuk dibuat menjadi kolam pemeliharaan kepiting merupakan salah satu faktor
yang perlu diperhatikan. Hal ini disebabkan tanah merupakan komponen utama
dalam pembuatan kolam selain itu, tanah juga dapat menyerap atau melepaskan zat
hara yang diperlukan oleh vegetasi dan plankton yang berada di dalam kolam.
Keadaan tanah yang perlu
diperhatikan di antaranya yaitu tekstur tanah, keasaman tanah, dan topografi
tanah.
1. Tekstur
tanah
Yang dimaksud dengan
tekstur tanah yaitu ukuran atau susunan (jaringan) bagian tanah. Tekstur tanah
peranannya sangat penting dalam pembuatan tambak kepitin karena berhubungan erat
dengan kualitas lahan. Selain itu, tanah juga berfungsi sebagai tanah dasar dan
untu pematang tambak yang digunakan untuk menahan air.
Tekstur tanah daoat
ditentukan dengan mudah yaitu dengan memperhatikan komposisi material yang
menyusunnya. Tanah terdiri atas gabungan antara mineral dan bahan organik.
Komposisi dari mineral dan bahan organik yang dikandungnya sangat mempengaruhi
tekstur tanah.
Mineral yang paling
dominan sebagai penyusun tanah dapat dibagi atas tiga bagian yaitu sebagai
berikut.
(1) Tanah
liat (clay) dengan diameter kurang dari 0,002 mm.
(2) Lumpur
(slit) dengan diameter sekitar 0,002-0,05 mm.
(3) Pasir
(sand) dengan diameter sekitar 0,05-2 mm.
Bahan organik tanah
biasanya berasal dari penguraian organisme hewan maupun tumbuhan.
Di berikut ini terdapat
suatu tabel mengenai hubungan antara tekstur (klas) tanah dengan kelayakannya
untuk digunakan sebagai tambak.
Tabel 1. Hubungan
antara klas tanah dengan kelayakannya sebagai lahan tambak
|
Klas tanah
|
Permiabilitas
|
Kelayakan
|
|
Liat
Liat berpasir(sandy clay)
Lempung
Lumpur (slit)
|
Kedap air
Kedap air
Semi kedap air
Semi kedap air
|
Sangat baik
Baik
Sedang
Jelek
|
Ciri-ciri tanah yang baik
dijadikan untuk pembuatan tambak yaitu sebagai berikut.
(1) Kompak
artinya tanah tersebut tidak mudah bercerai-berai.
(2) Dapat
menahan air dan baik untuk pembuatan pematang tambak seperti tanah liat
berpasir (sandy clay) atau lempung berliat (sitly loam) karena sangat keras dan
tidak retak-retak jika kering. Tanah liat berpasir ini juga sangat cocok
digunakan untuk tanah dasar kolam pada siang hari.
(3) Sebagai
tempat hidup dan sumber unsur hara untuk organisme yang menjadi makanan
kepiting. Organisme yang dimaksud eperti zoo-planton (binatang laut yang sangat
halus), fitoplanton (tumbuhan laut), ataupun organisme lainnya.
Tanah yang kurang
baik untuk dijadikan tambak epiting yaitu sebagai berikut.
(1) Tanah
yang tidak dapat menahan air seperti tanah lumpur atau pasir. Tanah yang
kandungan pasirnya lebih dari 41% kurang baik dijadikan tambak kepiting karena
kurang mampu menahan air dan sangat menyulitkan petani dalam pembuatan
konstruksi tambak.
(2) Tanah
yang mudah lengket dan terbakar jika kering seperti tanah bergambut.
2. Keasaman
tanah
Keasaman tanah merupakan salah satu faktor yang turut
diperhitungkan dalam pemilihan lokasi tambak kepiting. pH tanah dapat diukur
dengan cara menggunakan kertas pH atau berupa alat yang disebut pH indikator
kolorimeter. Pengukuran derajat keasaman (pH) tanah dengan menggunakan alat
tersebut sangat baik kerena dapat menggukur pH tanah dengan tepat dan cepat.
Tanah yang baik digunakan
untuk budi daya kepiting yaitu tanah dengan pH netral atau basa yaitu pH
sekitar 7,0-8,5. Tanah pada kisaran pH seperti itu baik untuk pertumbuhan
kepiting karena kaya akan nutrien (zat yang mendorong pertumbuhan dan
pengembangbiakan sel dari suatu organisme) organisme pakan kepiting dapat
terangsang pertumbuhannya.
Tanah dengan kandungan pH
sekitar 6,5-7,0 masih bisa digunakan untuk tempat memelihara kepiting dengan
cara memberikan sedikit kapur.
Lahan hutan mangrove yang
baru dibuka biasanya masih bersifat asam karena sisa tanaman yang membusuk
masih banyak terkandung di dalamnya. Tanah asam tersebut pada umumnya akan
menimbulkan banyak masalah karena untuk menguraikan sisa tanaman tersebut
memerlukan banyak oksigen. Selain itu, tanah yang baru dibuka tersebut untuk
memperbaikinya memerlukan biaya yang tinggi dan akan kurang produktif karena
kesuburannya rendah.
Tanah yang asam akan
menyebabkan meningkatnya kelarutan unsur-unsur tanah yang sifat beracun seperti
besi, seng, mangan, dan aluminium sehingga dapat membahayakan kehidupan
kepiting.
3. Topografi
tanah
Yang dimaksud dengan
topografi yaitu keadaan muka bumi pada suatu kawasan atau daerah.
Lahan yang bergelombang
dan terlalu curam tidak baik untuk dijadikan lahan tambak kepiting sehingga
penggunaan tanah seperti itu perlu dihindarkan.
Lahan yang bergelombang
memerlukan biaya dan tenaga yang banyak untuk menggali serta meratakan,
sedangkan tanah yang digali terlalu dalam dapat menyebabkan lapisan permukaan
tanah yang subur dapat terbuang.
Lahan yang terlalu curam
memerlukan pematang yang tinggi dan kuat pembuatannya.
Keadaan tanah yang baik untuk
dijadikan sebagai lahan tambak kepiting yaitu yang keadaannya datar, tidak
bergelombang, serta mempunyai kemiringan sekitar 5-20%. Tanah yang mempunyai
kemiringan seperti itu tidak memerlukan terlalu banyak penggalian pada waktu
membuat tambak sehingga dapat menghemat tenaga dan biaya.
Lahan yang relatif datar
yang telah ditemukan sebaiknya diamati lagi mengenai hubungannya antara
permukaan sebaiknya diamati lagi mengenai hubungannya antara permukaan lahan
dengan fluktuasi air (gejala yang menunjukkan turun-naik air) yang ada di
daerah tersebut. Lahan yang mempunyai tinggi permukaan tanah yang lebih rendah
daripada tinggi permukaan tanah yang lebih rendah daripada tinggi permukaan air
pada saat pasang turun terendah tidak layak untuk dijadikan tambak kepiting
kerena tambak tersebut akan senantiasa terendam oleh air. Sebaliknya, jika
tinggi permukaan tanah masih lebih tinggi daripada tinggi permukaan air pada
saat pasang naik tertinggi, lahan tersebut juga tidak baik digunakan karena
petani tambak akan mengalami kesulitan pada waktu akan mengisi air di
tambaknya.
B. Sumber
Air
Sumber air sangat penting
diperhatikan dalam pemilihan lokasi budi daya kepiting. hal-hal yang perlu
diperhatikan yang mencakup sumber air yaitu iklim, pasang surut air pola arus
air, kualitas dan kuantitas air, salinitas air, dan pencemaran air.
1. Iklim
Keadaan iklim yang perlu
diperhatikan yaitu mengenai curah hujan, penguapan , dan angin. Data-data
mengenai iklim suatu daerah dapat diperoleh di Jawatan Meteorologi dan
Geofisika. Data pertanian dan di Dinas Pertanian dan Dinas Perairan setempat
walaupun tidak selengkap di kantor Meteorologi dan Geofisika.
a.
Curah hujan
Data
curah hujan perlu diketahui oleh petani tamabak untuk menentukan jumlah bulan
basah, bulan kering, dan hari hujan karena hal tersebut berhubungan dengan
penurunan salinitas perairan, persediaan sumber air laut dan air tawar, musim
tanam, tinggi permukaan air, serta untuk menetukan saat yang tepat untuk
membuat saluran tambak, ukuran saluran dan tinggi pematang tambak.oleh karena
itu, kemungkinan terjadi nya luapan air pada waktu banjir dapat diatasi.
Tinggi
rendahnya curah hujan pada lahan yang dipilih sebaiknya diketahui, baik
mengenai curah hujan maksimum maupun distribusi (pembagiannya ke beberapa
tempat) tahunannya. Tujuannya agar petani tambak dapat mengetahui dan
menentukan kapan melakukan penangkapan benih dan penyebarannya di tambak atau
kapan mengadakan perbaikan tambak, serta pekerjaan lainnya yang dipengaruhi
oleh curah hujan.
b.
Penguapan
Penguapan
air yang dapat mempengaruhi salinitas air tambak. Oleh karena itu, tinggi
rendahnya penguapan air perlu diketahui agar salinitas iar tambak yang sesuai
dengan kepiting dapat terus dipertahankan. Untuk mengurangi terjadinya
penguapan air yang tinggi, sebaiknya ditanam pohon bakau di sepanjang pematang
atau di pelataran pematang.
c.
Angin
Data
angin diperlukan oleh petani untuk membantu menetukan arah dan bentuk petakan
tambak yang baik. Tambak yang baik jika memungknkan sebaiknya diabuat sejajar
dengan rah angin. Tujuannya yaitu agar peredaran air di tambak bisa berjalan
dengan sempurna shingga oksigen, makan, dan temperatur dapat menyebar secara
merata.
Daerah
yang mempunyai kecepatan angin yang tinggi sebaiknya dibuatkan pematang tambak
yang agak besar. Agar tidak mudah rusak, dipematang tersebut di tanami pohon
selain bertujuan untuk menahan angin, membuat teduh, juga mengurangi terjadinya
penguapan.
2. Pasang
surut air
Data pasang surut(pasut)
derah yang akan ditempati untuk membangun tambak perlu diamati agar dapat
diketahui layak tidaknya daerah tersebut. Hal ini disebabkan pasang surut
mempengaruhi biaya operasional, tipe tambak, dan cara pengelolaan.
Data fluktuasi air laut
dapat diperoleh di Jawatan Hidro Oceanografi, Markas Besar TNI Angktan Luat
Jakarta yang secar rutin menerbitkan Daftar Pasang Surut Kepulauan Indonesia.
Selain itu, dapat pula dilakukan dengan cara menggunakan tongkat berskala (tide
scale). Caranya, tongkat tersebut ditancapkan di lokasi yang akan dijadikan
tambak, kemudian dilakukan pengamatan mengenai tinggi permukaan air pada saat
pasang naik tertinggi dan saat pasang turun terendah. Hasilnya, dapat diperoleh
gambaran yang jelas keadaan fluktuasi daerah tersebut.
Fluktuasi (perbedaan)
pasang surut air laut yang layak dapat menjamin terjadinya proses pertukaran
air di tambak pemeliharaan berlangsung lancar.
Fluktuasi pasang surut air
laut yang baik adalah sekitar 1,5-3 meter. Fluktuasi tersebut dianggap baik
karena proses pemasukan dan pengeluaran air dapat dilakukan secara alami yaitu
dengan mengunakan tanaga pasang naik dan pasang surut.
Fluktuasi air laut yang
lebih tinggi daripada 4 meter sering menimbulkan banjir, terutama saat
terjadinya pasang naik maksimum. Oleh karena itu, dibutuhkan pematang (tanggul)
yang tinggi, kuat, dan besar sehingga diharapkan tidak jebol dan dapat menahan
air di tambak pada saat air sedang pasang turun maksimum akibat tekanan yang
besar, kehilangan, air, erosi, rembesan air, dan perlubangan pematang oleh
kepiting. untuk membuat pematang yang tinggi, kuat, dan besar dibutuhkan biaya
yang juga besar.
Fluktuasi air laut yang
kurang dari 0,5 meter juga kurang baik untuk dijadikan tambak pemeliharaan
kepiting. Hal ini disebabkan jangkauan air laut terlalu pendek sehingga
pergantian air di tambak tidak dapat dilakukan dengan sempurna tanpa
menggunakan pompa.
3. Pola
arus air
Pola arus air pada daerah
yang akan ditempati untuk membangun tambak perlu diketahui dan diperhitungkan
agar dapat direncanakan pengendalian erosi terhadap pematang dan pintu-pintu
air utama.
Pola arus air dapat
diketahui dengan melakukan pengamatan atau dengan car menanyakan keadaan daerah
tersebut kepada penduduk setmpat.
Topografi dan debit air
setempat mempengaruhi besar dan arah arus air. Arus air yang baik yaitu yang
tidak terlalu deras dan juga tidak terlalu lemah. Arus yang terlalu deras dapat
merusak konstruksi tambak, sedangkan
arus yang terlalu lemah dapat menyebabkan terjadinya pengendapan di dasar
saluran dan di kolam pemeliharaan. Jika terjadi pengendapan , maka dapat
menyebabkan fungsi tambak tidak efektif, kemudian tidak dapat lagi digunakan.
Basarnya arus air yang
masuk ke tambak pemeliharaan dapat dikendalikan dengan cara mangatur ukuran dan
jumlah pintu pemasukan air.
4. Kualitas
dan kuantitas air
Sumber air dari daerah
yang akan dijadikan sebagai tambak perlu diperhatikan, terutama mengenai
kualitas dan kuantitasnya.
Kualitas dan kuantitas air
merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kehidupan kepiting karena tidak
semua air dapat digunakan utuk memelihara kepiting.
Kualitas air pemeliharaan
kepiting sebaiknya memenuhi persyaratan kualitas air yang bik yaitu yang
mencakup sifat-sifat penting dalam budi daya kepiting seperti sifat fisika,
kimia, dan mikrobiologis.
Tambak pemeliharaan
kepiting sebaiknya dibangunpada lokasi yang secara alami banyak dihuni oleh
kepiting karena perairan tersebut diharapkan mempunyai sumber air yang sesuai
dengan kehidupan kepiting.
Lokasi pemeliharaan
kepiting sebaiknya dekat dengan sumber air, baik air asin maupun air tawar. Air
asin dapat diperoleh dari pantai dengan mengandalkan arus pasang surut. Selain
itu, dapat juga didatangkan dari tengah laut apabila air yang daru pantai tidak
memenuhi syarat dengan cara menggunakan perantaraan pipa.
Air tawar dapat diperoleh
dari saluran irigasi atau sungai yang terdekat dengan lokasi tambak. Selain
itu, air tawar dapat juga diperoleh dengan cara sumur bor jika saluran irigasi
atau sungai tidak ada.
5. Salinitas
air
Salinitas air (tingkat
kadar garam air) pemeliharaan kepiting di dalam tambak sebaiknya sesuai dengan
keinginan kepiting yaitu sekitar 15-30%. Akan tetapi, kepiting masih dpat hidup
pada salinitas di bawah 15% dan diatas 30%.
Air yang mempunyai
salinitas yang kurang dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan kepiting
karena kepiting berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Perubahan salinitas air tambak
dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu curah hujan yang besarvdan penguapan
air yang tertinggi.
Turunnya hujan yang
terlalu deras dapat menyebabkan terjadinya penurunan salinitas. Cara
mengatasinya yaitu dengan mengalirkan lapisan air hujan yang ada dipermukaan
air secepat mungkin. Sedangkan, penguapan yang tinggi dapat menyebabkan
meningkatnya salinitas air sehingga perlu dilakukan penambahan air tawar ke
dalam tambak.
Salinitas dapat diukur
dengan mengunakan salinometer dan refraktormeter.
6. Pencemaran
air
Lokasi tamabak yang
dipilih sebaiknya bebas dari berbagai macam pencemaran yang dikhawatirkan dapat
merusak kualitas air tambak. Penggunaan sumber air yang tercemar oleh senyawa
beracun dan berbahaya sebaiknya dihindarkan penggunaannya kerena tidak baik
digunakan untuk tmpat memelihara kepiting.
Senyawa beracun tersebut
dapat berasal dari limbah industri, limbah rumah tangga, maupun limbah
pertanian seperti pemberantasan hama pertanian. Oleh karena itu, lokasi tambak
sebaiknya jauh dari kota yang digunakan sebagai kawasan industri dan daerah
pertanian.
C. Kebutuhan
pakan
Lokasi yang cocok
digunakan sebagai tempat budi daya kepiting dapat diketahui dengan cara
memelihara makanan yang disukai oleh kepiting yang ada di dearah tersebut.
Makanan yang disukai oleh kepiting antara lain yaitu udang-udangan serta
bangkai hewan seperti ular dan ikan beracun. Apabila makanan yang disukai oleh
kepiting banyak didapati di daerah tersebut, maka kemungkinan di daerah
tersebut akan ditemukan kepiting. semakin banyak kepiting ditemukan di daerah
tersebut berarati daerah tersebut semakin dijadikan sebagai tempat memelihara
kepiting.
Dalam pemeliharaan
kepiting, kebutuhan akan makanan memerlukan biaya yang paling banyak yaitu
sekitar 60% dari total biaya produksi. Lokasi pemeliharaan kepiting yang kaya
akan pakan alami dapat menguntungkan bagi petani tambak karena biaya produksi
untuk makanan menjadi rendah. Oleh karena itu, tidak heran apabila ketersediaan
makanan pada suatu daerah dijadikan sebagai ukuran atau petunjuk tentang cocok
atau tidaknya daerah tersebut untuk dijadikan sebagai tempat untuk memelihara
kepiting.
D. Tenaga
kerja
Tenaga kerja turut
menentukan keberhasilan suatu daya kepiting. Tenaga kerja yang baik yaitu
tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman.
Tenaga kerja yang
digunakan ada dua, yaitu tenaga kerja yang di datangkan dari luar daerah dan
tenaga kerja dari daerah setempat.
1. Tenaga
kerja dari luar daerah
Tenaga kerja yang
didatangkan dari luar biasanya tenaga kerja yang terampil. Tenaga kerja
terampil ini dapat dipoeroleh dari mereka yang telah menempuh pendidikan folma
pada sekolah-sekolah perikanan seperti di Akademi Usaha Perikanan atau
perguruan tinggi.
Wawasan budi daya dan
minat kerja yang mereka peroleh dari bangku pendidikan dapat membantu kecakapan
mereka di lapangan. Akan tetapi, pada umumnya mereka belum mempunyai pengalaman
kerja. Oleh karena itu, pada awal kerja sebaiknya mereka masih perlu mendapat
bimbingan dari mereka yang telah berpengalaman.
2. Tenaga
kerja lokal
Tenaga kerja lokal atau
tenaga kerja yang diambil dari daerah setempat pada umumnya digunakan untuk
pekerjaan seperti perbaikan dasar dan pematang tamabak, perbaikan saluran air,
memberi makanan, serta pemanenan. Selain itu, penggunaan tenaga kerja lokal
juga mempunyai beberapa keuntungan yaitu sebagai berikut.
(1) Tidak
memerlukan biaya yang besar untuk datang dan pulang dari tempat kerja kerena
tampat tinggalnya berada di sekitar lokasi tambak.
(2) Tidak
memerlukan fasilitas perumahan kerena mempunyai rumah sendiri.
(3) Tidak
memerlukan fasilitas konsumsi kerena mereka biasanya membawa makanan sendiri.
(4) Menguasai
seluk-beluk pasang-surut air laut sehingga penggantian air dapat dilakukan pada
saat yang tepat.
(5) Dapat
berfungsi sebagai sosial kontrol dengan penduduk setempat sehingga tambak
kepiting aman dari gangguan penduduk setempat yang bermaksud jahat.
E. Sarana
dan Prasarana
Sarana dan prasarana juga
perlu mendapat perhatian kerena dapat mempunyai biaya produksi.
Sarana dan prasarana
pemeliharaan kepiting yang perlu diperhatikan yaitu sebaiknya dapt dijangkau
dengan mudah dari segala arah sehingga
segala sesuatu dapat berlangsung dengan lancar. Hal-hal yang perlu mendapat
perhatian seperti ketersediaan benih yang mencukupi dengan harga yang murah,
kemudahan mendapat makanan, pupuk, peralatan, tenaga kerja, serta bahan-bahan
yang digunakan untuk membuat tambak
seperti pasir, genting, kayu bangunan, dan lain-lain.
Hal yang perlu juga
diperhatikan yaitu pemasaran dapat berlangsung dengan baik. Pemasaran dapat dikatakan baik apabila
terdapat pasar kepiting yang baik dan harga pembelian yang tinggi.
Sarana transportasi juga
perlu diperhatikan baik angkutan melalui air maupun angkutan melalui darat.
Lokasi yang mudah dijangkau dari berbagai arah mempunyai nilai ekonomis yang
lebih tinggi. Kelancaran transportasi dapatmenyebabkanpemeliharaan dan produksi
kepiting dapat berjalan secara berkesinambungan atau terus-menerus.
Mutu kepiting yang telah
dipanen dapat dipengaruhi oleh transportasi. Mutu kepiting hasil panen dapat
menurun selama dalam pengangkutan jika jarak pasar yang ditempuh terlalu jauh
dan prasarana jalan belum lancar dan baik.
IV.
KONSTRUKSI TAMBAK
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan konstruksi tambak yaitu pembuatan pematang,
pembuatan pintu air, pembuatan saluran air, dan pembuatan petak pemeliharaan .
A. Pembuangan
Pematang
Pematang tau tanggul
mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai berikut.
(1) Melindungi
tambak dari tekanan air dari luar akibat banjir atau penggenagan air pasang.
(2) Menahan
air supaya dapat digunakan untuk memelihara kepiting.
(3) Memudahkan
melakukan pemanenan.
Berdasarkan
fungsinya, pematang dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu pematang primer,
pematang sekunder, dan pematang tersier.
1. Pematang
primer
Pematang primer atau
pematang utama atau pematang keliling mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai
berikut.
(1) Membatasi
unik tambak, baik dari sumber air laut maupun dari sungai. Oleh karena itu,
pematang utama harus dibangun lebih kuat, besar, dan lebih tinggi dibandingkan
dengan pematang sekunder dan tersier agar dapat mengalirkan air yang dibutuhkan
untuk pemeliharaan kepiting serta dapat melindungi tambak dari banjir dan
erosi.
(2) Sebagai
pembatas dari satu pemilik tambak dengan pemilik tambak lainnya .
(3) Sebagai
prasarana transportasi pada tambak yang relatif luas atau berskala besar.
Pematang
primer sebaiknya dibangun minimal sekitar 200 meter dari tepi pantai atau
sekitar 100 meter dari tepi sungai.
Tinggi
pematang primer yaitu minimal 0,5 meter lebih tinggi daripada pasang atau di
atas pasang dan banjir tertinggi. Penentuan tinggi pematang sebaiknya
didasarkan pada catatan tinggi air pasang dan banjir maksimum yang terjadi pada
10-15 tahun di lokasi tersebut.
Lebar
bagian atas tambak minimal 2 meter dengan kemiringan sisi bagian 1:1 atau 1:1,5
yaitu merupakan perbandingan antara tinggi dan lebar pematang. Sebenarnya
penentuan lebar bagian atas tambak didasarkan pada tujuannya yaitu jika
pematang tersebut dibangun untuk dilewati kendaraan, maka lebarnya sekitar
3,5-4 meter dan ditambah 0,5 meter di setiap sisinya agar dapat menjaga tanggul
tidak rusak atau runtuh.
Jalur
hijau yang terdapat di tepi sungai atau tepi pantai sangat baik terutama
apabila dibiarkan melebar lebih dari 400 meter. Jalur hijau tersebut mempunyai
beberapa kegunaan yaitu untuk:
(1) Melindungi
pematang dari gelombang dan arus
(2) Mengendalikan
banjir
(3) Melemahkan
kekuatan gelombang
(4) Menyelamatkan
lingkungan dari bahaya erosi.
2. Pematang
sekunder
Pematang sekunder atau
pematang pemisah mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai berikut.
(1) Menjaga
supaya air yang mengalir melalui saluran utama tidak masuk ke petakan tambak
terutama pada saat pasang tertinggi.
(2) Menampung
air pada saat pasang tertinggi.
Pematang
sekunder ukurannya lebih kecil daripada pematang primer atau pematang utama.
Akan tetapi, ukuran tinggi dan lebar pematang sekunder tersebut tergantung pula
pada keadaan setempat.pada umumnya tinggi pemtang sekunder sekitar 1-2 meter
dengan lebar bagian atasnya sekitar 0,5-1,5 meter dan perbandingan kemiringan
sisi luarnya yaitu 1:1.
Pematang
menggunakan yang menggunakan pemisah ini biasanya dilengkapi dengan saluran
atau kenal di kedua sisinya. Saluran ini akan menstabilkan air tambak saat
matahari terik, terutama jika tinggi air dalam tambak lebih rendah daripada
ketinggian normal. Supaya pematang tidak mudah longsor, maka penggalian tanah
di sepanjang kiri-kanan pematang tidak dilakukan di kaki pematang. Di antara
kaki pematang dan saluran keliling sebaiknya mempunyai jarak sekitar 1 meter
yang biasanya disebut berm atau teras. Berm tersebut berfungsi untuk memudahkan
membuang tanah galian dari saluran keliling untuk ditimbuni dibadan pematang.
3. Pemtang
tersiar
Pematang tersier mempunyai
beberapa fungsi yaitu sebagai berikut.
(1) Enahan
tekanan air baik dari dalam petakan tambak maupun dari luar tambak atau dari
saluran tamabak.
(2) Menampung
air dari pada petakan tambak.
(3) Membagi
unit pertambakan menjadi beberapa petakan yang ukurannya lebih kecil.
(4) Memudahkan
pelaksanaan pemeliharaan kepiting.
Konstruksi
pematang harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum bagian lain dikerjakan,
terutama untuk pematang primer. Pembarsih lahan dengan cara membuang tumbuhan
dan kotoran yang ada di tambak harus dilakukan sebelum tambak dibuat. Disain
pemtang harus didasarkan pada prinsip –prinsip teknis dan kelayakan ekonomi.
Lokasi yang
digunakan untuk membuat pemtang sebaiknya didasarkan pada hasil peninjauan agar
dapat dihindarkan beberapa hal berikut ini.
(1) Areal
tanah yang tidak baik atau jelek dapat meninggikan biaya konstruksi.
(2) Pembuatan
pematang dekat dengan jalur yang mempunyai sungai atau pantai yang tererosi.
(3) Pemotong
arus atau anak sungai yang mempunyai arus kuat.
Cara
membuat tambak yang baik yaitu sebagai berikut.
(1) Bentuk
pematang sebaiknya tegak atau tidak boleh terlalu miring supaya kepiting yang
hendak lari dapat tercegah.
(2) Tambak
dibuat dengan kuat baik dengan menggunakan bahan semen (tembok) maupun dari
tanah.
(3) Pematang
yang terbuat dari tanah sebaiknya dipagari. Pembarian pagar inilah yang
membedakan tambak kepiting denagan tamabak udang atau ikan. Pemtang yang dibuat
dengan kuat, padat, dan besar terutama jika dibuat dari tanah liat atau tanah
liat bercampur pasir dan diperkirakan tidak dapat digali oleh kepiting, maka
pemagaran pematang cukp dilakukan dibagian atas pematang. Tanah yang jelek, dan
lunak perlu diperhatikan terutama mengenai jenis tanahnya.
Kerusakan
pematang dapat dihindari dengan melakukan beberapa hal berikut ini.
(1) Lokasi
keadaan tanahnya jelek dan lunak tidak baik digunakan untuk membangun pematang
karenan dapat memyebabkan pemerosotan dan peruntuhan pematang.
(2) Tanah
dibersikan dari sisa-sisa batang dan akar tanaman mangrove.
(3) Pematang
ditanami tanaman yang tahan panas, asin, dan akarnya dapat manahan tanah
seperti pohon-pohon bakau di antaranya pohon tanjung dan pohon api-api.
(4) Pada
kaki pemtang, dibuatkan teras atau berm.
(5) Dibuat
pematang yang kaut dan padat karena jika tidak kuat dan padat mudah pecah-pecah
dan terkikis pada saat hujan.
B. Pembuatan
Pintu Air
Pintu
air barfungsi untuk mempermudah dan memperlancar pengaturan aliran masuk air di
dalam tambak.
Bagian
utama pintu air barfungsi untuk mengatur aliran air yang terdiri ats beberapa
lembar papan yang disusun secara vertikel yang mudah dipasang atau dilepaskan
sehingga aliran air dan tinggi permukaan air dapat daiatur dan dikendalikan
sesuai dengan yang diinginkan.
Beberapa
syarat yang sebaiknya dipenuhi dalam pembuatan pintu air yaitu sebagai berikut.
(1) Konstruksinya
dibuat sedemikian rupa agar air dapat masuk dan keluar (dibuang) sampai ke
dasar saluran.
(2) Dapat
daiatur pembukaannya sehingga dapat memeungkinkan terjadinya pergantian air di
tambak.
(3) Dapat
menampung dan manahan air yang diperlukan baik pada waktu pemasukan maupun
dalam pengairan.
(4) Dapat
mengalir air permukaan dari tamabk.
Konstruksi
pintu air tambak sebaiknya dibuat dari semen (beton) atau kayu yang keras,
tahan air (kayu besi atau berlian), dan tahan perusakan oleh organisme penempel.
Aliran
air supaya dapat sampai ke petakan tambak, dari pintu utama air dimasukkan dulu
ke saluran pembagi air yang akan mebagi air ke setiap petakan tambak.
Jenis
pintu air dapat dibagi atas dua yaitu pintu air utama dan pintu sekunder.
1. Pintu
air utama
Pintu air utama atau pintu
air primer atau laban berfungsi untuk mengalirkan air dari sumber air ke
saluran di dalam tambak atau sebaiknya atau untuk pengaturan masuk-keluarnya
air ke seluruh petakan tambak.
2. Pintu
air sekunder
Pintu air sekunder atau
tekoan atau pintu air petakan berfungsi untuk mengatur aliran air dalam saluran
utama ke saluran sekunder atau sebaliknya. Pintu air sekunder pada prinsipnya
mempunyai bentuk yang sama dengan pintu air primer hanya ukurannya ebih kecil.
Pintu air sekunder dapat dibuat dari kayu keras atau dari semen (beton).
Pintu
air dapat dibagi atas dua bagian berdasarkan fungsinya, yaitu pintu pemasukan
dan pengeluaran.
1. Pintu
pemasukan
Pintu pemasukan berfungsi
untuk mengatur aliran air dari saluran ke dalam petakan tambak.
Agar sampah organisme lain
(predator) tidak masuk ke dalam tambak, maka pintu pemasukan sebaiknya
dilengkapi dengan penyaring.
2. Pintu
pengeluaran
Pintu pengeluaran atau
monik berfungsi untuk mengeluarkan air bekas yang ada di dalam tambak.
Pengeluaran air dari tambak dapat dilakukan bersamaan dengan pemasukan air baru
atau khusus dilakukan untuk pengeluaran saja.
C. Pembauatan
Saluran Air
Saluran air berfungsi
untuk mengalirkan air dari sumbernya ke dalam unit
Setiap petakan
tambak biasanya dibuat saluran (parit) keliling yang biasa disebut caren dan
saluran pembagi air. Saluran keliling letaknya diluar petakan tambak, sedangkan
saluran pembagi air letaknya diluar petakan tambak. Saluran keliling sangat
penting bagi pertambakan kepiting karena mempunyai beberapa fungsi di antaranya
yaitu sebagai tampat:
(1) Kepiting
untuk menghindarkan diri terhadap sengatan matahari dan air surut;
(2) Berlangsungnya
perkawinan;
(3) Pemberian
makanan dan pemanenan kepiting.
Ukuran
saluran keliling, baik lebar maupun dalamnya disesuaikan dengan luas tambak dan
tingi-rendahnya fluktuasi pasang. Tamabak yang luas biasanya mempunyai caren
dengan lebar sekitar 3-5 meter dan dalam sekitar 1,0-1,5 meter di bawah dasar
tambak.
Saluran
pembagi air juga sangat penting bagi tambak kepiting untuk mengalirkan air
masuk ke dalam tambak dan juga dapat digunakan untuk mengeluarkan air dari
tambak.
D. Pembuatan
Petak Pemeliharaan
Petak pemeliharaan
kepiting pada umumna berbentuk persegi, mendekati bujurvsangkat karena dapat
mempermudah pengelolaan dan lebih efisien dalam pemanfaatan lahan. Selain itu,
tamabk bentuk bujur sangkar memerlukan pematang yang tidak terlalu panjang.
Petakan tambak tersebut sebaiknya dibuat dalam satu unit dan setia unit tambak
tersebut diairi satu pintu air besar berupa pintu air utama.
V.
TEKNIK PEMELIHARAAN BUDI DAYA KEPITING
A. Persiapan
tambak
Tamabak yang akan
digunakan untuk memelihara kepiting sebaiknya di persiapkan terlebih dulu
sebelum kepiting di masukkan ke dalam tambak tersebut supaya dapat diperoleh
hasil panen yang memuaskan.
1. Pengeringan
tambak
Tujuan pengeringan tambak
yaitu memutuskan siklus hidup organisme penyakit dan menguapkan senyawa beracun
yang mungkin saja terbentuk selama tambak digunakan atau selama terendam di
air. Oleh karena itu, pengeringan tambak diharapkan dapat menjamin kesuburan
tanah dan pertumbuhan makanan alami seperti kelekap.
2. Perbaikan
tambak
Tujuan perbaikan tambak
yaitu untuk menjaga fungsi tambak sebagai tempat pemeliharaan kepiting agar
tetap baik karena tambak yang rusak dapat menyebabkan keluarnya kepiting yang
dipelihara dan masuknya organisme predator.
3. Pengapuran
tambak
Pengapuran tambak
bertujuan untuk menaikkan pH tambak, memberantas penyakit, mempercepat proses
penguraian bahan organik, dan mengikat CO2 yang berlebihan akibat
proses penapasan dan pembusukkan. Selain itu, kapur juga diperlukan kepiting,
sepertijuga udang untuk proses pergantian kulit.
Cara melakukan pengapuran
tambak yaitu sebagai berikut.
(1) Tambak
dicangkul terlebih dahulu supaya proses pengapuran lebih sempurna hingga
mencapai kedalaman sekitar 20 cm.
(2) Tambak
yang telah dicangkul diberi air sampai menjadi becek atau macak-macak.
(3) Tanah
yang telah becek tersebut ditaburi atau ditebarkan kapur secara merata ke
seluryh permukaan tambak. Selain itu, supaya kapur dapat tercampur secara
merata dapat juga dilakukan dengan cara diaduk –aduk kapur yang telah
ditebarkan tersebut dengan lumpur tanah dasar tambak hingga sedalam sekitar 10
cm.
(4) Jumlah
kapur yang diberikan tergantung pada keadaan pH tanah, tetapi pemberian kapur
pada tambak umumnya sekitar 10-20 kg/hektar tamabk. Akan tetapi, tambak di
daerah hutan bakau biasanya mempunyai
tanah yang pH-nya rendah yaitu sekitar 4-5 sehingga memerlukan kapur
yang banyak yaitu sekitar 3.000-6.000 kg/hektar batu kapur bakar.
(5) Tanah
yang telah diberi kapur sebaiknya dibiarkan selama beberapa lama, kemudian
tambak mulai dapat diisi air tiga hari setelah dilakukan proses penguapan.
Pembarian pupuk dapat dilakukan sekitar 1-2 minggu sekali setelah proses
penguapan.
4. Pemberian
pelindung
Tujuan pemberian pelindung
yaitu untuk melindungi kepiting yang masih kecil atau yang sedang berkanti
kulit agar tidak dimakan oleh kepiting yang lebih kuat.
Kepiting mempunyai sifat
kanibal yaitu suka memakan sesamanya utamanya jika kepiting tersebut kekurangan
makanan sea dapat memakan anak kepiting atau kepiting yang sedang berkanti
kulit.
B. Pemberantasan
Hama
Sebenarnya, salah satu
keuntungan petani tambak kepiting dibandingkan petambak udang, yaitu petambak
kepiting tidak terlalu melakukan pemberantasan hama. Hal ini disebabkan musuh
tamabk udang berupa berbagai jenis ikan, udang-udanga, dan siput dapat menjadi
makanan bagi kepiting. akan tetapi, terdapat juga berapajenis hewan yang dapat
mengganggu tambak kepiting seperti hewan penggerak yang dapat menggerakan kayu
pintu air, hewan penempel di bangunan seperti tiram dan teritip, serta udang
tanah yang dapat melubangi pematang.
C. Pemupukan
Tambak
Pemberian pupuk pada
tambak merupakan salah satu faktor penting untuk memelihara kepiting karena
kemampuan tanah tambak yang terbatas dalam mempertahankan kesuburannya.
Jenis pupuk ada dua macam
yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik.
1. Pupuk
organik
Pupuk organik merupakan
pupuk alam seperti pupuk kandang, pupuk hijau, dan kompos. Pupuk organik
mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara makro maupun unsur hara
mikro.
2. Pupuk
anorganik
Pupuk anorganik merupakan
pupuk buatan seperti Urea, TSP, dan ZK.
D. Pengadaan
dan Penebaran Benih
1. Pengadaan
benih
Pengadaan benih dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu penangkapan benih di alam dan produksi benih.
a.
Penangkapan benih di alam
Benih kepiting
di alam dapat ditemukan disepanjang tahun sehingga benih tersebut mudah
dilakukan penangkapannya. Akan tetapi, terdapat pula daerah yang sulit
ditemukan kepiting yaitu:
(1)
Daerah yang tidak mempunyai sungai;
(2)
Daerah muara sungai yang sangat keruh dan
mempunyai arus deras;
(3)
Daerah yang muara sungainya tercampur oleh
limbah industri.
Benih
kepiting dapat ditangkap dengan berbagai alat yaitu seperti dakkang, banjur,
ambau, dan tongkat besi.
a) Dakkang
Dakkang atau
dakkang-dakkang pada umumnya digunakan oleh petani yang ada di Sulawesi
Selatan.
b) Banjur
Banjur merupakan alat
menangkap kepiting yang terbuat dari
bilah bambu berbentuk tongkat dan dihaluskan.
c) Ambau
Ambau merupakan alat
menangkap kepiting bagi nelayan di KalimatanTimur.
d) tongkat besi
tongkat besi yang
digunakan untuk menangkap kepiting biasanya mempunyai tangkai dari bambu.
Tongkat besi yang digunakan biasanya mempunyai panjang sekitar 1 meter dengan
diameter sekitar 5 mm dan ujungnya dibengkokkan setengah lingkaran,
tongkat besi bertangkai
bambu ini pada umumnya digunakan di daerah pinggir pantai yang kaya kepiting
atau daerah yang berhutan bakau.
b.
Produksi benih
Benih yang
dihasilkan selain dapat diperoleh dengan penangkapan di alam juga dapat
diperoleh dengan cara memproduksi benih (pembenihan) melalui pemijahan
(pengembangiakan) di akuarium.
Kelebihan
benih yang diperoleh dari hasil pemijahan di akuarium daripada benih yang
ditangkap di alam yaitu sebagai berikut:
(1) Mutunya
lebih terjamin;
(2) Ukurannya
relatif seragam;
(3) Tidak
tercemar benih organisme lain yang kemungkinan dapat menjadi hama bagi
kepiting;
(4) Tedik
bercampur dengan benih lainnya.
3. Penebaran
benih
Benih yang telah
dipersiapkan, sebaiknya ditempatkan dulu di tambak penyesuaian (aklimatisasi)
atau tambak adaptasi selama sekitar satu bulan dengan harapan benih tersebut
sudah dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan perairan tambak dan ukurannya
juga sudah bertambah besar. Dengan demikian, tingkat kematian benih tersebut
rendah jika sudah dimasukkan ke dalam pembesaran.
E. Pemeliharaan
dan Pemberian Pakan
1. Pemeliharaan
kepiting
Sebagaimana diterangkan
sebelumnya bahwa pembesaran atau pemeliharan kepiting dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu secara monokultur atau polikultur.
a.
Pemeliharan kepiting secara monokultur
Yang dimaksud
dengan pemeliharaan secara monokultur yaiyu merupakan cara pemeliharaan yang
dalam satu kolam hanya dipelihara satu jenis hewan seperti hanya kepiting. cara
pemeliharaan seperti ini banyak digunakan oleh petembak di Taiwan, Filipina,
dan Malaysia.
b.
Pemeliharaan sacara polikutur
Yang dimaksud
dengan pemeliharaan secara polikuntur yaitu dalam satu tambak terdapat lebih
dari satu jenis organisme. Jadi, kepiting dapat dipelihara bersamaan dengan
bandeng, udang, ataupun rumput laut dalam satu tambak.
Pemeliharaan
secara polikuntur mempunyai tujuan utama yaitu untuk menghasilkan
pertumbuhankepiting yang maksimal sehingga pada saat dijual ke pasaran, tidak
memperhatikan sudah matang kelamin atau belum.
2. Pemberian
pakan
Pemberian pakan atau
makanan kepada kepiting hampir sama saja antara pemeliharaan secara monokultur
dan polikuntul hanya dosisnya berbeda.
Pakan yang diberikan
kepada kepiting yang dipelihara secara monokultur yaitu berdosis sekitar 5%
dari berat total kepiting yang dapat diberikan pada waktu sore sacara
sekaligus.
Pakan kepiting yang dipelihara
secara polikuntur sama saja dengan yang diberikan pada pemeliharaan secara
monokultur yaitu daging siput, potongan ikan, isi perut ikan, dan sisa pakan
lainnya.dosi makan yang diberikan lebih tinggi karena dikhawatirkan terjadinya
kanibalisme di antara sesama kepiting dan makanan tersebut kemungkinan dimakan
juga oleh organismeatau hewan lainnya.
VI.
PANEN DAN PASCAPANEN
A. Panen
Yang dimaksud dengan panen
adalah penangkapan hasil kepiting yang telah dipelihara atau dikembangbiakan,
mulai dari pembuatan tambak, pengadaan benih, hingga pemberian makanan hingga
menjadi besar.
Panen kepiting dapat
dibagi atas dua yaitu waktu panen dan cara panen.
1. Waktu
panen
Kepiting pada umumnya
dapat dipenen setelah dipelihara selama 4-6 bulan sejak benih ditebarkan. Pada
umur tersebut, kepiting biasanya telah mencapai berat sekitar 200 gram per ekor
dengan lebar karapasnya sekitar 8 cm.
2. Cara
panen
Cara melakukan panen
kepiting bermacam-macam yaitu dapat langsung ditangkap dengan menggunakan
tangan, menggunakan kurungan bambu, dan mengunakan perangkap atau jaring yang
sudah diberi umpan. Selain itu, kepiting dapat digiring ke dekat pintu air
karena kepiting biasanya berenang melawan arus air pada saat dilakukan
pengisian air tambak waktu pasang tinggi.
B. Pascapanen
Yang dimaksud dengan
pascapanen yaitu penanganan pada kepiting setelah dipanen seperti dalam hal
pemasaran.
Kepiting yang sudah
ditangkap sebaiknya segera diikat kedua sapitnya yang kuat dan kaki kepiting
dengan mengunkan tali dari pelepah pisang kering karena tidak merusak kaki-kaki
kepiting. kaki dan sapit kepiting merupakan begian kepiting yang diikat supaya
tidak bisa lagi berjalan dan menggigit atau menjepit sehingga dapat merusak
tubuh kepiting lain karena saling menyerang.
Pemasaran kepiting ada dua
cara yaitu pemasaran secara lokal dan pemasaran secara ekspor.
Pada pemasaran secar
lokal, kepiting biasanya dijual dalam keadaan hidup. Cara mengepaknya yaitu
kepiting di musukkan ke dalam keranjang rotan atau kardus yang tebal dan
kepiting tersebut sebaiknya diikat secara per satu.
Penjualam kepiting
bertelur dalam jumlah besar tidak dianjurkan apabila ditinjau dari segi pelestarian
sumber daya. Oleh karena itu, kepiting petelur yang keadaan telurnya masih
hidup sebaiknya dipelihara kembali, baik di hatchery maupun dilepaskan ke alam.
Petambak yang mempunyai hatchery sebaiknya menjadikan kepiting petelur sebagai
induk untuk ditetaskan telurnya. Akan tetapi, jika benihnya sudah melebihi
kebutuhan mak sebaiknya dielpaskan ke perairan bebas.